<body bgcolor="black">Haven't been a Member? Register here!

Community Xtreme [ Cx]</body>
Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
Radio N3
December 2014
MonTueWedThuFriSatSun
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031    

Calendar Calendar

Visitor Country
free counters
TIme

[Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

[Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Post  MounTain on Mon Aug 15 2011, 16:42

• Alap-Alap • Anggang • Anoa • Babi Rusa • Badak Jawa • Badak Kalimantan • Badak Sumatera • Bajing Tanah • Bangau Hitam • Banteng • Bayam • Beruang Muda • Beruk Mentawa • Biawak Ambong • Biawak Maluku • Biawak Pohon • Biawak Togian • Buaya Sapit • Bimok ibis • Buaya Taman • Buaya Tawar • Burung Beo Nias • Burung Cacing • Burung Dara Mahkota • Burung Gosong • Burung Kipas • Burung Kipas Biru • - Burung Luntur • Burung Madu • Burung Maleo • Burung Mas • Burung Merak • Burung Paok • Burung Sesap • Burung Titi • Burung Udang • Cendrawasih • Cipan • Cubo • Duyun • Gajah Sumatra • Gangsa Batu Sula • Gangsa Laut • Harimau Loreng • Harimau Sumatra • Ibis Hitam • Ibis Putih • Itik Liar • Jalak Bali • Jalak Putih • Jantingan Jelarang • Julang • Junai • Kahau Kalimantan • Kakaktua Hitam • Kakaktua Kunin • Kakatua Raja • Kancil • Kangkareng • Kanguru Pohon • Kasuari • Kelinci Liar Sumatra • Kera Tak Berbuntut • Kijang• Klaces • Komodo • Kowak Merah • Kuau • Kubung • Kucing Hitam • Kura-Kura Gading • Kuskus • Kuwuh • Labis-Labis Besar • Landak Irian • Lumba-Lumba Air Laut • Lumba-Lumba Air Tawar • Lutung Mentawai • Lutung Merah • Macan tutul • Maleo • Malu-Malu• Mambruk• Mandar Suiawesi• Marabus• Meong Congkok• Merak• Minata• Monyet Hitam • Monyet Jambul • Monyet Sulawesi • Muncak • Musang Air • Nori Merah • Orangutan Pongo • Orangutan/Mawas • Pelanduk Napu • Pengisap Madu • Penyu Raksasa • Pesut • Peusing • Platuk Besi • Raja Udang • Rangkok • Rankong • Roko-Roko • Rungka • Rusa Bawean • Sandanglawe • Sapi Hutan • Siamang • Suruku • Tando • Tapir • Trenggiling • Tungtong • Ular Panana • Walang Kadak • Walang Kekek • Wili-Wili

Gambar - Gambar Nama binatang di Atas yang dilindungi maupun Langkah .
Alap-Alap:

Deskripsi:
Berukuran kecil (33 cm), berwarna coklat. Jantan: mahkota dan tengkuk abu-abu, ekor abu-abu kebiruan tanpa garis. Tubuh bagian atasnya merah karat dan sedikit bergaris hitam, tubuh bagian bawah kuning kerbau bercoretkan hitam. Betina: ukuran lebih besar, tubuh bagian atas seluruhnya coklat, kurang merah dengan garis-garis yang lebih tebal. Remaja: seperti betina tetapi coretan lebih rapat.
Iris coklat, paruh abu-abu dengan ujung hitam, dan kaki kuning.
Suara:
Teriakan menusuk “yak-yak-yak-yak-yak”.
Penyebaran global:
Afrika, Erasia, India, dan Cina. Pada musim dingin menyebar ke selatan sampai Filipina dan Asia Tenggara.
Penyebaran lokal dan status:
Pengembara yang jarang sampai Sumatra. Secara teratur mengunjungi Kalimantan bagian utara dan Sulawesi.
Kebiasaan:
Penerbang yang sangat anggun, terbang melingkar perlahan, atau melayang-layang diam sambil mengepakkan sayap ketika berburu. Menukik tajam begitu melihat mangsa, sering menyambar mangsa dari atas tanah. Bertengger pada tiang atau pohon mati. Lebih menyukai daerah terbuka.


Anggang-Anggang:
Anggang-anggang merupakan sekelompok serangga pemangsa yang semuanya termasuk dalam suku Gerridae. Anggota-anggotanya, sekitar 340 jenis, banyak yang sulit dibedakan. Dalam literatur dikenal juga secara salah kaprah sebagai "laba-laba air", walaupun ia sama sekali bukan laba-laba. Nama "anggang-anggang" sendiri berasal dari gerakannya yang maju-mundur sambil mengapung

Serangga ini sangat mudah dikenali karena kebiasaan hidupnya yang selalu berjalan/melompat di permukaan air. Gerakannya cepat, dapat mencapai 1.5 m/s. Kebanyakan hidup di perairan tenang, namun ada lima jenis (dari marga Halobates) yang diketahui hidup di permukaan samudera. Dari permukaan air, anggang-anggang mengincar mangsa (biasanya serangga lain) yang berada di dekat permukaan.
Hewan ini menjadi model dalam penelitian biofisika tentang kemampuan tekanan permukaan dalam menyangga beban. Ada dua aspek yang menjadi perhatian: kemampuan mengapung di permukaan dan kemampuannya bergerak ke depan secara cepat.

Kemampuan mengapung berasal dari adanya rambut-rambut sangat kecil (microsetae) tersusun dengan arah tertentu dengan lekukan-lekukan dalam ukuran nanometer pada ujung tungkainya dan dilengkapi dengan lapisan malam (lilin), tetapi efek hidrofobik lebih disebabkan oleh struktur fisik tungkai daripada lapisan malam yang ada. Diketahui pula, terdapat sudut kontak efektif tungkai dengan air sebesar 167.6° ± 4.4°. Karena rapatnya rambut-rambut kecil serta lekukan-lekukan yang ada, udara terperangkap pada struktur itu dan berfungsi sebagai "bantalan" pada permukaan air.



Kemampuan bergerak secara cepat juga menarik perhatian ilmuwan. Untuk bergerak, anggang-anggang menekan permukaan air dengan pasangan tungkai tengahnya tanpa menembus permukaan, membentuk cekungan di permukaan. Cekungan ini cukup dalam untuk mendorong tubuh serangga ke depan. Selain itu, beberapa individu dapat menggunakan sayap yang kadang-kadang dimiliki oleh serangga ini. Dalam kondisi hidup kurang menguntungkan, anggang-anggang cenderung tidak bersayap.



Anggang-anggang Gerris remigis
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Hemiptera
Subordo: Heteroptera
Infraordo: Hemiptera
Famili: Gerridae
Leach, 1815

Genera
Aquarius
Eotrechus
Gerris
Halobates
Limnogonus
Limnoporus
Metrobates
Neogerris
Rheumatobates
Trepobates


Anoa Dataran Rendah [Anoa]:
Anoa adalah satwa endemik pulau Sulawesi, Indonesia. Anoa juga menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi Tenggara. Satwa langka dan dilindungi ini terdiri atas dua spesies (jenis) yaitu: anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua satwa ini tinggal dalam hutan yang jarang dijamah manusia. Kedua spesies anoa tersebut hanya dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya.

Baik Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) maupun Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sejak tahun 1986 oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam binatang dengan status konservasi “Terancam Punah” (Endangered; EN) atau tiga tingkat di bawah status “Punah”.

Secara umum, anoa mempunyai warna kulit mirip kerbau, tanduknya lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih. Hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa atau apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan tanduknya.

Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sering disebut sebagai Kerbau kecil, karena Anoa memang mirip kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing. Spesies bernama latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa pegunungan.



Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Panjang tubuhnya sekitar 150 cm dengan tinggi sekitar 85 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya 40 cm. Sedangkan berat tubuh anoa dataran rendah mencapai 300 kg.

Anoa dataran rendah dapat hidup hingga mencapai usia 30 tahun yang matang secara seksual pada umur 2-3 tahun. Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai sampai dengan hutan dataran tinggi dengan ketinggian 1000 mdpl. Anoa menyukai daerah hutan ditepi sungai atau danau mengingat satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat.

Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaña. Dalam bahasa latin anoa pegunungan disebut Bubalus quarlesi.



Anoa pegunungan mempunyai ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 122-153 cm dengan tinggi sekitar 75 cm. Panjang tanduk anoa pegunungan sekitar 27 cm dengan berat tubuh dewasa sekitar 150 kg. Anoa pegunungan berusia antara 20-25 tahun yang matang secara seksual saat berusia 2-3 tahun. Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.

Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 mdpl meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang diperlukan dalam proses metabolismenya.

Anoa pegunungan cenderung lebih aktif pada pagi hari, dan beristirahat saat tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah batu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa digunakan untuk menyibak semak-semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk digunakan untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada saat perkelahian, bagian ujung yang tajam menusuk ke atas digunakan dalam upaya untuk melukai lawan. Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan suara “moo”.

Populasi dan Konservasi. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah terlihat lagi. Karena itu sejak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah).

Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diperjual belikan. Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Beberapa daerah yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore-Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah).

Anoa sebenarnya tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.

Pada tahun 2000, masyarakat Kabupaten Buton dan Konawe Selatan dibantu pihak BKSDA pernah mencoba untuk membuka penangkaran anoa. Tetapi usaha ini akhirnya gagal lantaran perilaku anoa yang cenderung tertutup dan mudah merasa terganggu oleh kehadiran manusia sehingga dari beberapa spesies yang ditangkarkan tidak satupun yang berhasil dikawinkan.

Tahun 2010 ini, Taman Nasional Lore-Lindu akan mencoba melakukan penangkaran satwa langka yang dilindungi ini. Semoga niat baik ini dapat terlaksana sehingga anoa datarn rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dapat lestari dan menjadi kebanggan seluruh bangsa Indonesia seperti halnya Panser Anoa buatan Pindad.


Mau lebih lanjut infonya ?
Silahkan tunggu untuk sementara waktu..





_________________
Bedakanlah masalah pribadi dengan masalah yang lain
Berani berbuat, berani bertanggung jawab

blue line blue line

blue line blue line

MounTain
Trial Moderator
Trial Moderator

Browser: Opera
Element: Water
Male Total Post: 362
Cash: 428
Reputation: 4
Join date: 12.08.11
Lokasi: Medan sekitarnya...
Country: Indonesia
Mood: angelic

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: [Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Post  MounTain on Mon Aug 15 2011, 17:43

Update 1 Hewan:

Babi Rusa:
Babirusa merupakan hewan endemik Sulawesi, Indonesia. Babirusa yang dalam bahasa latin disebut sebagai Babyrousa babirussa hanya bisa dijumpai di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya seperti pulau Togian, Sula, Buru, Malenge, dan Maluku. Sebagai hewan endemik, Babirusa tidak ditemukan di tempat lainnya. Sayangnya satwa endemik ini mulai langka.

Sang binatang endemik Babirusa, mempunyai tubuh yang meyerupai babi namun berukuran lebih kecil. Yang membedakan dari babi dan merupakan ciri khas babirusa mempunyai taring panjang yang mencuat menembus moncongnya. Lantaran bentuk tubuh dan taring yang dipunyainya hewan endemik Sulawesi ini dinamakan babirusa.



Satwa endemik ini dalam bahasa inggris sering disebut sebagai Hairy Babirusa, Babiroussa, Babirusa, Buru Babirusa, ataupun Deer Hog. Sedangkan nama latin hewan yang endemik Sulawesi, Indonesia ini disebut sebagai Babyrousa babirussa dengan beberapa nama sinonim seperti Babyrousa alfurus (Lesson, 1827), Babyrousa babirousa (Jardine, 1836), Babyrousa babirusa (Guillemard, 1889), Babyrousa babirussa (Quoy & Gaimard, 1830), Babyrousa frosti (Thomas, 1920), Babyrousa indicus (Kerr, 1792), Babyrousa orientalis (Brisson, 1762), dan Babyrousa quadricornua (Perry, 1811).

Satwa yang terancam punah ini terdiri atas tiga subspesies yang masih bertahan hidup sampai sekarang yaitu; Babyrousa babyrussa babyrussa, Babyrousa babyrussa togeanensis, dan Babyrousa babyrussa celebensis serta satu subspesies yang diyakini telah punah yakni Babyrousa babyrussa bolabatuensis.

Ciri-ciri dan Perilaku Babirusa. Babirusa mempunyai ciri khas bentuk tubuhnya yang menyerupai babi namun mempunyai taring panjang pada moncongnya. Hewan endemik Indonesia ini mempunyai tubuh sepanjang 85-105 cm. Tinggi babirusa sekitar 65-80 cm dengan berat tubuh sekitar 90-100 kg. Binatang endemik yang langka ini juga mempunyai ekor yang panjangnya sekitar 20-35 cm.

Babirusa (Babyrousa babirussa) memiliki kulit yang kasar berwarna keabu-abuan dan hampir tak berbulu. Ciri yang paling menonjol dari binatang ini adalah taringnya. Taring atas Babirusa tumbuh menembus moncongnya dan melengkung ke belakang ke arah mata. Taring ini berguna untuk melindungi mata hewan endemik Indonesia ini dari duri rotan.

Babirusa termasuk binatang yang bersifat menyendiri namun sering terlihat dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu babirusa jantan yang paling kuat sebagai pemimpinnya.



Babirusa mencari makan tidak menyuruk tanah seperti babi hutan, tapi memakan buah dan membelah kayu-kayu mati untuk mencari larva lebah. Babirusa menyukai buah-buahan seperti mangga, jamur, dan dedaunan. Satwa langka endemik Indonesia ini suka berkubang dalam lumpur sehingga menyukai tempat-tempat yang dekat dengan sungai.

Babirusa betina hanya melahirkan sekali dalam setahun dengan jumlah bayi satu sampai dua ekor sekali melahirkan. Masa kehamilannya berkisar antara 125 hingga 150 hari. Selah melahirkan bayi babirusa akan disusui induknya selama satu bulan. Setelah itu akan mencari makanan sendiri di hutan bebas. Hewan endemik ini dapat bertahan hingga berumur 24 tahun.

Babirusa termasuk binatang yang pemalu dan selalu berusaha menghindar jika bertemu dengan manusia. Namun jika merasa terganggu, hewan endemik Sulawesi ini akan menjadi sangat buas.

Habitat, Populasi, Persebaran, dan Konservasi. Babirusa (Babyrousa babyrussa) tersebar di seluruh Sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara, serta pulau sekitar seperti Togian, Sula, Malenge, Buru., dan Maluku. Satwa langka endemik ini menyukai daerah-daerah pinggiran sungai atau kubangan lumpur di hutan dataran rendah.

Beberapa wilayah yang diduga masih menjadi habitat babirusa antara lain Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Cagar Alam Panua. Sedangkan di Cagar Alam Tangkoko, dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo satwa unik endemik Sulawesi ini mulai langka dan jarang ditemui.

Populasinya hingga sekarang tidak diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan persebarannya yang terbatas oleh IUCN Redlist satwa endemik ini didaftarkan dalam kategori konservasi Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1986. Dan oleh CITES binatang langka dan dilindungi inipun didaftar dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diburu dan diperdagangkan.

Berkurangnya populasi babirusa diakibatkan oleh perburuan untuk mengambil dagingnya yang dilakukan oleh masyrakat sekitar. Selain itu deforestasi hutan sebagai habitat utama hewan endemik ini dan jarangnya frekuensi kelahiran membuat satwa endemik ini semakin langka.


Perlu beberapa Waktu / hari saya meng Updatenya jadi harap bersabar...

_________________
Bedakanlah masalah pribadi dengan masalah yang lain
Berani berbuat, berani bertanggung jawab

blue line blue line

blue line blue line

MounTain
Trial Moderator
Trial Moderator

Browser: Opera
Element: Water
Male Total Post: 362
Cash: 428
Reputation: 4
Join date: 12.08.11
Lokasi: Medan sekitarnya...
Country: Indonesia
Mood: angelic

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: [Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Post  XiaotiaO on Mon Aug 15 2011, 18:17

nice info nice info

XiaotiaO
Jenderal Member
Jenderal Member

Browser: Opera
Element: Water
Male Total Post: 1073
Cash: 810
Reputation: 118
Join date: 05.08.11
Lokasi: ❾Seoul ❾서울❾
Country: Aregentina
Mood: sunshine


Character sheet
Rickroll:
Rickroll
Rickroll

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: [Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Post  MounTain on Tue Aug 16 2011, 15:54

Update Badak Jawa :
Badak Jawa:
Badak jawa atau javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus) adalah binatang terbesar di Jawa. Beratnya bisa mencapai 1,5 ton, berkulit pucat. Badak Jawa pernah tersebar di hampir seluruh wilayah gunung di Jawa Barat, seperti gunung Gede-Pangrango, Gunung salak, Gn. Tangkuban Perahu dan gunun Ciremei.

Nama sebutan Badak Jawa agaknya kurang tepat karena distribusi alaminya, sejauh yang bisa dipastikan, pernah mencapai kawasan Sungai Brahmaputra di Bangladesh sampai Vietnam serta ke sebelah barat daya Cina, dan deskripsi badak pertama berasal dari spesimen yang ditemukan di Sumatera. Distribusi aslinya secara menyeluruh tidak akan pernah dapat diketahui, karena pada suatu waktu yang berbeda dan pada suatu tempat yang berbeda badak Jawa ini pernah dikacaukan dengan badak Sumatera Dicerorhinus sumatrensis dan badak India/bercula satu Rhinoceros unicornis.



Dulu badak ini hanya dikenal dan bagian selatan Jawa Barat dan dari Gn. Slamet di Jawa Tengah, meskipun fosil yang masih ada ditemukan di sebelah utara Yogyakarta. Ketika Junghuhn mendaki Gn. Pangrango pada tahun 1839 (pendakian pertama yang tercatat dilakukan oleh orang Eropa) ia mengejutkan dua badak Jawa di dekat puncak gunung, seekor sedang berendam di suatu sungai kecil dan yang lain sedang merumput di pinggir sungai (Junghuhn 1854). Beberapa jalan setapak di beberapa gunung mengikuti bekas jejak badak, dan jalur-jalur di gunung-gunung yang ada dijawa mungkin merupakan sisa terakhir dari kehadiran binatang besar ini.



Dua belas ekor badak Jawa terakhir yang terdapat di Sumatera telah ditembak oleh pemburu-pemburu Belanda antara tahun 1925-1930, dan setelah itu seekor lagi ditembak di Karangnunggal (Tasikmalaya) pada tahun 1934.

Sampai akhir abad ke-19 penduduk kota Bandung masih bisa menyaksikan adanya badak jawa, mereka menyebutnya badak priangan. Tidak mengherankan bila di Bandung ada daerah yang bernama Rancabadak. Namun pada tahun 1895 seorang pemburu Belanda menembak mati badak jawa tidak jauh dari kota Bandung, itulah badak jawa terakhir di kota Bandung.



Orang percaya bahwa sisa populasi badak Jawa sekarang hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, tempat keberadaannya pertama dilaporkan pada tahun 1861. Meskipun demikian, pada tahun 1989, sepuluh ekor badak jawa ditemukan bertahan hidup di sepanjang sungai Dong Nai di bagian selatan Vietnam.

Badak Jawa adalah pemakan tunas dan rerumputan. Badak memakan daun-daun muda, tunas-tunas dan ranting-ranting yang tumbuh di permukaan tanah. Jika makanan ini tidak dapat dijangkau karena terlalu tinggi, maka badak akan berusaha mematahkan batangnya dengan cara menabrakkan dirinya pada batang tersebut, atau dengan cara menghancurkan batang dengan giginya.


Ada lebih dari 150 jenis tumbuhan yang diidentifikasi sebagai makanan badak, dan kemungkinan besar semua jenis tumbuhan tersebut yang dapat dicapai dan ukurannya sesuai akan dimakan. Badak memakan makanannya di berbagai tipe vegetasi, meskipun kebanyakan dilakukan di tempat-tempat yang tidak terlindung, misalnya, di antara pepohonan yang roboh atau di padang semak-belukar tanpa pepohonan.

Badak jawa memiliki satu cula yang terletak di ujung hidungnya. Indra penciuman dan pendengarannya sangat tajam, tetapi badak jawa memiliki penglihatan yang kurang baik (rabun dekat). Badak Jawa melahirkan setiap 3-5 tahun sekali. Lama mengandung 16 bulan, umumnya melahirkan satu ekor anak saja dan dipelihara induknya hingga umur 2 tahun, setelah dewasa anak tersebut meninggalkan induknya. Usia badak jawa bisa mencapai hingga 50 tahun.



Keragaman makanan badak mungkin merupakan tanggapan terhadap kebutuhan untuk membatasi atau mencegah racun yang masuk, memaksimalkan kandungan mineral tertentu, serta menanggulangi kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh keragaman musim. Karena hampir semua catatan tanaman pangan berasal dari observasi tidak langsung, maka sangat relevan untuk memperhatikan bahwa kerusakan pada batang-batang pohon yang umum dilakukan oleh badak dapat juga disebabkan oleh banteng dan rusa.

Badak adalah salah satu mamalia purba yang masih hidup. Nenek moyang badak jawa Baluchitherium, telah hidup 50 juta tahun yang lalu, sejak jaman Erasia. Badak Jawa masih satu kerabat dengan kuda dan keledai, yakni hewan yang memiliki kuku ganjil.

Cula badak adalah evolusi dari rambut badak yang bersatu dan mengeras. Sejak jaman dahulu manusia memburu badak hanya untuk mendapatkan culanya. Konon cula badak dijadikan ramuan obat-obatan atau jadi barang kerajinan seni berharga.



Ada 5 jenis badak yang ada di bumi yakni:
1. Badak afrika putih
2. Badak afrika hitam
3. Badak india
4. Badak sumatra
5. Badak jawa

Badak Sumatera memiliki dua buah cula yang bisa mencapai panjang 80cm di bagian depan dan 20 cm di bagian belakang. Tinggi badan 140 cm dan panjang mencapai 3 meter. Badak Sumatera dapat dijumpai di pulau Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) atau sering juga disebut badak kerbau. Badak ini (Dicerprhinus harrissoni) juga dapat ditemukan di kawasan hutan di Kalimantan timur.

Badak india (Rhinoceros unicornis) memiliki satu cula yang panjangnya mencapai 60 cm. Tinggi badan 170 cm, dan panjang 3,8 meter. Badak ini hidup di anak benua bagian selatan.

Badak afrika putih (Cerathotherium simum) adalah badak paling besar dengan tinggi badan 1,8 meter dan panjangnya bisa mencapai 5 meter, memiliki dua buah cula. Cula depan bisa mencapai 137 cm panjangnya dan cula kedua panjangnya bisa mencapai 60 cm.

Badak afrika hitam atau Dicerros bicornis tingginya bisa mencapai 1,6 meter dan panjangnya 4 meter. Memiliki dua buah cula yang panjuangnya bisa mencapai 70cm di depan dan 50 cm di belakang.

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah jenis badak yang paling kecil dengan tinggi badan 140 cm, dan panjangnya 3 meter. Memiliki satu cula dengan panjang mencapai 30 cm.



The main factor in the continued decline of the Javan Rhinoceros population has been poaching for horns, a problem that affects all rhino species. The horns have been a traded commodity in China for over 2,000 years where they are believed to have healing properties in Traditional Chinese Medicine. Historically, its hide was used to make armor for Chinese soldiers and some local tribes in Vietnam believed the hide can be used to make an antidote for snake venom. Because the rhinoceros's range encompasses many areas of poverty, it has been difficult to convince local people not to kill a seemingly useless animal which could be sold for a large sum of money. When the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora first went into effect in 1975, the Javan Rhinoceros was placed under complete Appendix 1 protection: all international trade in the Javan Rhinoceros and products derived from it is illegal.[28] Surveys of the rhinoceros horn black market have determined that Asian rhinoceros horn fetches a price as high as $30,000 per kilogram, three times the value of African rhinoceros horn. A painting from 1861 depicts the hunting of Rhinoceros sondaicus sondaicus



Loss of habitat because of agriculture has also contributed to its decline, though this is no longer as significant a factor because the rhinoceros only lives in two nationally protected parks. Deteriorating habitats have hindered the recovery of rhino populations that fell victim to poaching. Even with all the conservation efforts, the prospects for the Javan Rhinoceros's survival are grim. Because the populations are restricted to two small areas, they are very susceptible to disease and the problems of inbreeding. Conservation geneticists estimate that a population of 100 rhinos would be needed to preserve the genetic diversity of this conservation reliant species.

The Ujung Kulon peninsula was devastated by the eruption of Krakatoa in 1883. The Javan Rhinoceros recolonized the peninsula after the explosion, but humans never returned in large numbers, thus creating a haven. In 1931, as the Javan Rhinoceros was on the brink of extinction in Sumatra, the government of the Dutch Indies declared the rhino a legally protected species, which it has remained ever since. In 1967 when a census was first conducted of the rhinos in Ujung Kulon, only 25 animals were recorded. By 1980 that population had doubled, and has remained steady at about 50 ever since.

Although the rhinos in Ujung Kulon have no natural predators, they have to compete for scarce resources with wild cattle which may keep the rhino's numbers below the peninsula's carrying capacity. Ujung Kulon is managed by the Indonesian Ministry of Forestry. Evidence of at least four baby rhinos was discovered in 2006, the most ever documented for the species. In March 2011, hidden-camera video was published showing adults and juveniles, indicating recent matings and breeding.

A Javan Rhinoceros has not been exhibited in zoos in a century. In the 19th century, at least four rhinos were exhibited in Adelaide, Calcutta and London. A total of at least 22 Javan Rhinos have been documented as having been kept in captivity, and it is possible that the number is greater as the species was sometimes confused with the Indian Rhinoceros. The Javan Rhinoceros never fared well in captivity: the oldest lived to be 20, about half the age the rhinos will reach in the wild. The last captive Javan Rhino died at the Adelaide Zoo in Australia in 1907 where the species was so little known that it had been exhibited as an Indian Rhinoceros. Because a lengthy and expensive program in the 1980s and 1990s to breed the Sumatran Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) in zoos failed badly, attempts to preserve the Javan species in zoos are unlikely.


NB: kurang ngerti yg bhasa inggris
Sad



_________________
Bedakanlah masalah pribadi dengan masalah yang lain
Berani berbuat, berani bertanggung jawab

blue line blue line

blue line blue line

MounTain
Trial Moderator
Trial Moderator

Browser: Opera
Element: Water
Male Total Post: 362
Cash: 428
Reputation: 4
Join date: 12.08.11
Lokasi: Medan sekitarnya...
Country: Indonesia
Mood: angelic

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: [Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Post  MounTain on Tue Aug 16 2011, 17:57

Update :

Bajing Tanah: Di dalam bahasa inggris bajing disebut squirrel .Bajing termasuk hewan pengerat (Rodentia) seperti halnya tikus dan kelinci. Bajing tergolong dalam suku Sciuridae .Hewan yang termasuk bajing diantaranya adalah bajing pohin, bajing tanah, jelarang. anjing prairie dan chipmunk yang tidak ada di indonesia, juga termasuk kelompok bajing.
Pada umumnya muka bajing tidak terlalu panjang atau runcing. bagian mulut dan hidung relatif rata. Setiap kaki berjari empat. ciri yang khas adalah bulu ekornya yang tebal.
Salah satu anggota keluarga bajing adalah Bajing-tanah moncong-runcing. bila dilihat sepintas jenis bajing yang satu ini mirip tupai karena mukanya yang runcing. tetapi bila diperhatikan lebih dekat bajing ini dibedakan dari ekornya yang lebih pendek, serta bentuk giginya sangat berbeda, bagian bawah perutnya berwarna pucat.
ilmuan pada umumnya menggolongkan bajing kepada dua famili, yaitu Sciridae (bajing pohon dan bajing tanah)dan Pteromydae (bajing terbang atau bajing loncat)


Untuk sementara saya Tunda Update yang lainnya.



_________________
Bedakanlah masalah pribadi dengan masalah yang lain
Berani berbuat, berani bertanggung jawab

blue line blue line

blue line blue line

MounTain
Trial Moderator
Trial Moderator

Browser: Opera
Element: Water
Male Total Post: 362
Cash: 428
Reputation: 4
Join date: 12.08.11
Lokasi: Medan sekitarnya...
Country: Indonesia
Mood: angelic

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: [Daftar],[Gambar],[Deskripsi]Dan[Nama] Binatang Langka Yang Dilindungi Di Indonesia

Post  Leung on Tue Aug 16 2011, 18:08

gajah sumut gk ada gan?

_________________
Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan



Sebuah Komunitas yg baik adalah mementingkan kebersamaan,
bukan mencari keuntungan.
bukan mencari harga diri ,
apalagi ego ama gengsi yg ditonjolkan.

Leung
Moderator
Moderator

Browser: Mozilla Firefox
Element: Fire
Male Total Post: 955
Cash: 1365
Reputation: 7
Join date: 08.08.11
Age: 24
Lokasi: medan
Country: Aregentina
Mood: cool

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik